DongEun

FF10 - DongEun

Author : Rahma Julynda
Cast : Lee Donghae – Park Jung soo
Shin Kyeoeun – Jang Nayoung (OC)


“ Teng … Teng … Teng … “
Tepat jam 12 malam, suara dari jam dinding memecah keheningan malam. Tirai didalam kamar bergelayut pelan seakan mengikuti irama yang dilantunkan oleh angin akibat dari jendela kamar yang sedikit terbuka. Mungkin dia tertidur atau hanya memejamkan mata namun tetap terjaga, raut wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi. Tidak ada balutan baju hangat ditubuhnya untuk menjaganya dari dinginnya hembusan angin malam, dia hanya menutup matanya terduduk sambil mendengar alunan lagu dari sepasang earphone ditelinganya.

“ Hanya kau yang dapat menghangatkanku dari dinginnya angin malam. Hanya kau dan cintamu “

Jarum jam tak lagi diam diangka 12, kini ia sudah berada di angka 2 dan pria itu masih saja dengan keadaan yang sama, tak berubah. Mungkin saja dia tertidur. Matanya terbuka dengan perlahan, terlihat memerah dan layu seakan lelah sudah tak lagi tertahan atau seperti sudah menghabiskan air mata yang ada. Dia bersandar pada penyanggah dibalkon kecil didepan kamar, menggenggam erat Ipod ditangan kanannya. Setetes air yang cukup hangat menetes ditangan kirinya yang menjadi penyanggah kepalanya, ia menangis tanpa suara. Tubuhnya bergerak perlahan meninggalkan tempat dimana ia sudah berada selama kurang lebih 2 jam itu, jalannya lelah menuju tempat tidurnya didalam dan membiarkan jendelanya tetap terbuka.

0_o

“ Besok lusa kau akan bertemu dengan anak teman Omma, namanya Jang Nayoung. Kau akan datangkan, Donghae? “ wanita itu melihat penuh harapan pada seorang pria yang ada dihadapannya, “ Walaupun aku bilang tidak, Omma pasti akan memaksaku kan, jadi aku akan datang “ ia hanya membaca koran yang ada dihadapannya dan kemudian melihat ibunya yang sedang menatapnya sedih. “ Omma .. sudahlah, aku tau apa yang akan Omma katakan dan aku mohon jangan Omma katakan itu “ Donghae menghampiri Ibunya yang sudah berkaca-kaca, memeluknya dengan erat, “ Omma hanya ingin kau bahagia “, “ Ya ,, aku mengerti “.

Langit tidak terlihat ceria dipagi ini, awan hitam telah menenggelamkan cahaya matahari. Angin yang cukup besar bertiup menemani seluruh kegiatan pagi masyarakat Gangwon tak terkecuali Lee Donghae. Ia menutup pintu mobilnya lalu berjalan menuju lift yang ada diparkiran bestment dengan langkah pelan, tas berbentuk kotak dengan ukuran standart berada ditangan kanannya, kerah bajunya kosong tanpa terpasangnya dasi disana.

“ Senyum indahmu yang menjadi penyemangat hidupku “

Hujan akhirnya menampakkan diri ditengah gelap awan pagi ini, seakan menumpahkan kesedihan yang teramat dalam. Lee Donghae mengarahkan kursinya kearah jendela, menatap hujan yang turun dengan ekspresi kerinduan diwajahnya, sadar akan kesedihan yang mulai menguasainya Donghae kembali pada posisi awal tempat duduknya.

Donghae, ia sibuk dengan sketsa yang ada dihadapannya. Sketsa rumah mungil yang sedang ia kerjakan, sketsa rumah yang dipesan kliennya. Rumah yang akan dihuni oleh pasangan muda yang akan menikah. Donghae mengerjakan tugasnya dengan sangat teliti, menggambar setiap detail rumah dengan cita rasa seorang arsitek yang handal. Ia menggulung sedikit lengan bajunya untuk membuatnya nyaman menggambar, selagi berfikir untuk membuat bagian-bagian lain untuk rumah ia meletakkan pensil yang digunakannya dicelah telinga dan kemudian kembali menggambar.

“ Apa kau sedang mengerjakan pesanan Nona Kim? “, “ Iya, aku sedang membuat sesuai dengan permintaannya “ Donghae tak memalingkan wajahnya dari kertas sketsa untuk melihat wajah lawan bicaranya, pandangannya tetap serius pada tugasnya. “ Apa kau akan disini sampai jam kerja berakhir tanpa makan siang? “ ucap seorang pria yang sedang memandang cerahnya langit sehabis diguyur hujan. Donghae memalingkan pandangannya pada jam ditangan kirinya. “ Hyung kenapa tidak langsung saja mengajakku makan siang? “, “ Ya mungkin saja kau ingin bertahan tanpa makan “ senyum pria itu sambil memegang perutnya.

Donghae dan pria yang tadi ada diruang kerjanya sekarang sudah duduk berhadapan disebuah restoran kecil dekat dengan kantor mereka berdua, keduanya sedang bersantap siang. “ Apa semalam kau tidur tengah malam lagi? “ Donghae hanya menganggukkan kepala perlahan dan kemudian memalingkan wajahnya menuju luar restoran sambil mengunyah pelan makanan dimulutnya. “ Kau merindukannya? “, “ Jung soo hyung .. “ Donghae memandang Jung soo dengan tatapan memohon. “ Kapan kau akan melupakannya? “, “ Tidak akan “, “ Tapi Donghae ,, “ Donghae tidak menyelesaikan makan siangnya dan bergegas pergi dari hadapan Jung soo yang belum sempat menyelesaikan ucapannya.

“ Ucapan sayang darimu adalah alunan lagu paling indah untukku “

0_o

Donghae menepati ucapannya pada sang Ibu untuk menemui seorang wanita dihari minggu ini karena itu sekarang Ia sedang duduk disebuah café yang terkenal dengan makanan baratnya, menunggu wanita yang dimaksud oleh Ibunya. Tak banyak orang yang datang hari ini pikir Donghae karena melihat sekitar ruangan yang hanya berisi kurang lebih 12 orang saat ini. Donghae terlihat santai menunggu sambil sesekali menyeruput cairan kopi yang ada dihadapannya.

Wanita manis dengan senyumnya yang manis juga menghampiri Donghae dan menyapanya, “ Annyeong asseo Jang Nayoung imnida “ Donghae berdiri dari tempat duduk untuk membalas sapa dari Nayoung dan mempersilahkan Ia untuk duduk, “ Aku pesan Jus strawberry “ pesan Nayoung pada pelayan yang menghampirinya.

“ Maaf Donghae oppa aku terlambat, eeum boleh kah aku panggil seperti itu? “ Ucap Nayoung sopan dengan senyum pada Donghae, “ Ya, kau boleh memanggilku seperti itu “ Donghae kembali meyeruput kopinya. Beberapa menit berlalu dan sepertinya Nayoung merasa Donghae tidak banyak bicara dan Donghae tak pernah benar-benar menatapnya saat berbicara. “ Apa benar Oppa seorang arsitek? Berarti gambar Oppa bagus sekali yaa “ Nayoung mencoba menyegarkan suasana diantara dia dan Donghae. “ Kau pasti sudah tau semuanya dari Ahjuma, karena Omma pasti sudah menceritakan semua tentangku pada Ibumu “ senyum Donghae tipis dan kali ini dia benar-benar menatap Nayoung dengan kedua matanya, Nayoung seakan sedang dipojokkan dengan tatapan mata dari Donghae itu, Ia menundukkan kepalanya.

Donghae melepaskan jas dan meninggalkannya didalam mobil, mengambil beberapa kaleng bir dari jok belakang mobilnya dan kemudian berjalan menuju bibir pantai. Membuka kaleng bir dan menenggaknya pelan, membasahi tenggorokkannya yang terasa kering sambil memandang indah pantai dengan ombak kecilnya. Pandangannya jauh beserta pikirannya yang melayang jauh, melayang jauh dengan semua kenangan dari seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya “ Kyeoeun … “ ucapnya lirih, sangat terasa perih. Ia menenggak bir, menahan air matanya untuk menetes.

“ Aku akan selalu ada untukmu seperti ombak yang datang dipantai “

Dengan sedikit rasa pusing dikepala Donghae mencoba melajukan mobilnya dijalan untuk pulang kerumah, bayangan Kyeoeun tak pernah beranjak dari pikiran Donghae. Donghae berhenti di apotik untuk memberli obat mual, rasa pusing akbiat minum bir kini sudah menimbulkan rasa lain ditubuhnya. Donghae bukan orang yang biasa minum-minuman keras seperti bir, sedikit saja minum bir dia akan pusing dan mual seperti sekarang ini. Donghae menenggak obat mual yang dibelinya dengan bantuan air minum untuk membantu obat itu masuk kedalam tenggorokkannya.

0_o

Saengil chukahamnida..
Saengil chukahamnida ..
Saranghaneun Donghae oppa ,
Saengil chukahamnida ..

Lee Donghae’aa , haahhaa .. Kau pasti marah aku memanggilmu seperti itu, benarkan? Haahaa .. Donghae oppa ini Kyeoeun, Shin Kyeoeun. Aku tidak tau harus memberimu apa dihari ulang tahunmu yang ke 22 ini. Aku hanya terpikirkan membuat ini untukmu, merekam suara jelekku untukmu. Aku berdoa supaya kau selalu sehat dan panjang umur, bahagia serta sejahtera bersama Ahjuma dan semoga juga bersamaku. Ini adalah ulang tahun ketiga kau bersamaku dan aku sangat bahagia serta tanpa berhenti mensyukuri anugrah Tuhan karena sudah memberimu untukku dan karena itu aku akan hidup dengan baik agar bisa terus bersamamu.

Oppa aku sangat berterima kasih bisa bertemu dengamu didalam hidupku ini, kau banyak mengajarkanku hal-hal yang baik, kau sangat baik walau kadang kau bisa tidak berhenti menjahiliku seharian tapi aku suka itu, yaa oppa jangan karena aku bilang suka, kau jadi lebih sering menjahiliku yaa, awas kau heeehehhhe. Aku ingin lebih banyak menjalani hari denganmu, lebih dalam mengenalmu, lebih bisa mengerti dirimu dan lebih mencintaimu karena semua yang sekarang ini, belum cukup. Aku masih ingin lebih dari ini dan aku mohon kau mengijinkan aku melakukannya. Lee Donghae, terima kasih karena kau sudah memberikanku kebahagian untuk merasakan dicintai dan mencintai, aku berdoa semoga kita akan bisa merasakan ini semua hingga Tuhan memisahkan kita dengan maut. Aku Shin Kyeoeun, sangat mencintai Lee Donghae. Dongeun Love forever .

Mungkin sudah ratusan kali atau mungkin sudah hampir ribuan kali Donghae mendengarkan rekaman ini, suara Kyeoeun, rekaman yang ada di Ipodnya pun sudah mulai kusut karena terlalu sering diputar olehnya. Donghae tak sekalipun menghilangkan Kyeoeun didalam hatinya, tidak sekali pun. Setiap yang dilihatnya ada kenangan akan Kyeoeun dan semua yang dikunjunginya juga memiliki kenangan tentang Kyeoeun.

Tiga tahun, waktu kebersamaan mereka berdua dan itu belum cukup untuk Donghae, mungkin juga untuk Kyeoeun. Sosok Kyeoeun yang ceria dan manis membuat Donghae tidak bisa berpaling darinya, membuat Donghae terhipnotis dengan semua tingkahnya, begitu pula dengan Kyeoeun yang tidak pernah bisa menahan pesona Donghae yang selalu saja membuatnya luluh. Keduanya hanya melihat satu sama lain. Kyeoeun yang penuh kasih sayang selalu menjadi sandaran untuk Donghae yang lelah dan selalu menjadi tempat Donghae berkeluh kesah menghadapi kehidupan yang keras. Donghae yang lembut dan penyayang membuat Kyeoeun nyaman bercerita dan bermanja padanya, mencurahkan segala isi hatinya pada Donghae.

Mereka saling melengkapi dan mengisi, memahami dan menjadi sandaran satu sama lain dan sekarang salah satu dari mereka pergi. Kyeoeun meninggal akibat kecelakaan yang menimpa dirinya. Kecelakaan keras yang diterima Kyeoeun saat itu membuatnya kehilangan nyawa, Kyeoeun meninggal dipelukkan Donghae saat dirumah sakiit. Kecelakaan 4 tahun yang lalu merenggut Kyeoeun dari hidup Donghae selamanya, mimpi-mimpinya bersama Kyeoeun terbang begitu saja bersama dengan menutupnya mata Kyeoeun.

Donghae merasa tak lagi hidup tanpa Kyeoeun disisinya, tak lagi bisa merasakan jiwanya tanpa Kyeoeun. Pandangan matanya tak sehangat bersama Kyeoeun, kini pandangan mata itu hanya dihiasi matanya yang merah dan sembab. Badan tegapnya yang sering menyembunyikan Kyeoeun dalam pelukkannya kini tak lagi terlihat. Bibirnya yang selalu tersenyum dan tertawa dengan bahagia sekarang hanya terdiam kaku tanpa senyuman bahagia dihidupnya, Donghae mati.

“ Donghae’aa .. Apa kau marah padaku? “ Jung soo menghampiri Donghae dimeja kerjanya, dia sedang sibuk seperti biasanya. “ Hyung, apa kau baru mengenalku sehari-dua hari? “, “ Tidak, hanya saja aku .. “, “ Sudahlah aku tidak mau membahasnya lagi “ Donghae menatap Jung soo kali ini dan mencoba memberikan senyum dibibirnya untuk Jung soo.

Donghae memang sudah lama mengenal Jung soo, dia senior Donghae semasa sekolah dulu dan Jung soo tau betul bagaimana dulu Donghae bersama dengan Kyeoeun. Jung soo mengerti bagaimana kehilangan yang Donghae rasakan tapi dia tidak mau teman baikknya hanya hidup dalam kesedihan, bukan ia mau menghilangkan Kyeoeun dari hidup Donghae, hanya saja Ia ingin melihat Donghae bahagia dengan seseorang yang menggantikan Kyeoeun dihidupnya, ini juga yang Ibu Donghae inginkan didalam hidup anaknya itu.

“ Ada yang mencarimu “ Jung soo kembali masuk kedalam ruang kerja Donghae dengan membawa seseorang bersamanya, kemudian meninggalkannya disana. “ Nayoung, kau? “, “ Maaf Oppa, aku datang tanpa bilang dulu pada Oppa. Omma yang mendadak menyuruhku, bahkan mengantarkanku sampai pintu depan gedung ini. Maaf Oppa “ Nayoung menundukkan kepalanya, dia benar-benar tidak enak dengan Donghae.

Donghae duduk berhadapan dengan Nayoung, kini mereka sedang menikmati secangkir kopi dikantin kantor. “ Oppa, aku sungguh minta maaf “, “ Sudahlah, ini bukan salahmu. Lagi pula hanya berkunjung saja “ Donghae menenggak kopinya. “ Jung soo hyung … “ panggil Donghae melihat Jung soo yang melintas didepannya. “ Bisa kau temani dia, aku masih harus melanjutkan sketsaku. Terima kasih “ tanpa mendengar jawaban dari Jung soo, Donghae meninggalkan Nayoung bersama Jung soo.

Message Nayoung :
“ Oppa, ini Nayoung maaf aku sudah menganggu kerjamu, aku sungguh minta maaf “

Donghae Replay :
“ Tidak apa-apa “

Message Nayoung :
“ Maaf yaa Oppa “

Donghae kembali berkonsentrasi dengan sketsa yang ada dihadapannya sambil mengamati kekurangan yang ada pada sketsa itu. Sekali lagi Jung soo masuk kedalam ruangannya, “ Apa yang kau lakukan Lee Donghae? “, “ Mengerjakan sketsaku, apalagi “. Jung soo mendekat kearah Donghae dan menutup sketsanya dengan kertas lain, “ Kau tau apa yang aku maksud “, “ Ya, Nayoung itu adalah wanita yang ingin ibu jodohkan denganku dan aku tidak tertarik padanya, jadi bisakah aku mengerjakan sketsaku dengan tenang? “ Donghae menatap Jung soo, Jung soo tidak ingin meneruskan pembicaraan ini karena takut akan mengyinggung soal Kyeoeun.

“ Entah mengapa aku bisa mencintaimu dengan tenang, mungkin karena aku tau kau mencintaiku “

0_o

Sore yang sangat cerah, burung-burung berterbangan dengan suara kicauan manis dari mulut-mulut kecil mereka menyambut untuk menutup cahaya matahari yang semakin tenggelam. Donghae mengenakkan kemeja biru dan dipadukkan dengan jas hitam, membuatnya terlihat tampan hari ini. Donghae menyambar kunci mobil yang ada dimeja didalam kamarnya setelah selesai berpakaian.

Donghae melajukan mobilnya disore ini dengan membawa sebuah kado yang diletakkannya dijok disampingnya. Hari ini adalah hari bahagia Jung soo karena hari ini Jung soo menikah dan Donghae sedang dalam perjalanan untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatnya itu. “ Kyeoeun, Jung soo hyung menikah “

“ Secepatnya, aku ingin melihat kau berdiri seperti aku sekarang ini dan menjalani hidup yang bahagia “ Jung soo memeluk Donghae, “ Sudahlah jangan cerewet, ini pernikahanmu “ saut Donghae dalam pelukkan Jung soo, dia hanya tertawa kecil. Donghae memperhatikan Jung soo dari kejauhan, mengamati kebahagian yang dirasakan oleh sahabatnya itu dan ia menginginkannya.

Donghae memasukki rumah dengan santai dan mendapati ada beberapa tamu dirumahnya, salah satunya Nayoung. “ Kau sudah pulang. Mereka sudah menunggumu dari tadi, apalagi Nayoung “ Donghae menghampiri ibunya dan memberikan salam kepada Nayoung beserta ibunya yang duduk disampingnya. “ Hari ini teman baikknya menikah, jadi Donghae pergi kesana “, “ Aku permisi sebentar untuk ganti pakaian “ Donghae berpamitan dan naik menuju kamarnya.

Donghae membuka kemejanya malas sambil memikirkan malas dengan kejadian yang akan terjadi padanya nanti saat sudah kembali turun dan bertemu Nayoung juga ibunya. “ Oppa … “, “ Kenapa kau masuk kekamarku? Apa ini juga disuruh? “ Donghae agak kesal melihat Nayoung yang sudah berada dikamarnya. “ Iya, Ahjuma yang menyuruhku untuk naik, maaf Oppa “ Donghae tidak habis pikir dengan niat Ibunya yang ingin menjodohkan dia dengan Nayoung.

“ Oppa, apa kau membenciku? “ Nayoung memberanikan diri memulai pembicaraan dengan Donghae, Donghae melihat sekilas kearah Nayoung. “ Atas dasar apa aku membencimu “, “ Jadi bisakah Oppa menyukaiku? “ Ucap Nayoung spontan. Donghae terdiam mendengar ucapan Nayoung padanya, dia hanya tidak menyangka Nayoung bisa mengatakan itu padanya. “ Aku sudah tidak bisa mencintai siapapun, hatiku sudah dibawa seseorang pergi “ Donghae tersenyum mengingat cintanya pada Kyeoeun.

“ Aku menyukai Oppa, aku … “ Nayoung tidak berani melanjutkan ucapannya dan kembali terdiam. “ Aku sudah tidak bisa menyukai seseorang lagi, hatiku sudah tak lagi padaku “ Donghae tersenyum tipis sambil melihat keluar jendela kamarnya. Nayoung menghampiri Donghae dan berdiri dihadapannya “ Aku tidak akan meminta Oppa melupakannya, aku tidak akan memintamu melakukan yang tidak kau inginkan asalkan kau mengijinkanku mencintaimu itu sudah cukup untukku “ Nayoung meneteskan air matanya mengucapkan itu pada Donghae. Donghae menatap Nayoung, ia merasakan perasaan Nayoung padanya tapi mana mungkin dia bisa menyukai Nayoung karena cintanya hanya untuk Kyeoeun.

“ Aku tidak mengijinkannya, kau tidak boleh menyukaiku. Aku hanya akan menyakitimu dengan semua sikapku, kau akan lebih baik tidak bersamaku, percayalah “ dengan tegas Donghae mengatakan hal itu pada Nayoung. “ Benarkah tidak bisa? “, “ Kau tidak pantas bersama dengan pria yang menyedihkan sepertiku, percayalah padaku Nayoung “ Donghae kembali mengatakannya pada Nayoung.

0_o

“ Membuatmu tersenyum adalah hal yang membahagiakan dalam hidupku “

Donghae memperhatikan para pekerja yang sedang membuat hasil sketsanya kedalam bentuk nyata disebuah tempat didaerah pegunungan, rumah kecil yang manis. Hanya saat bekerja dia bisa sedikit melegakan hati dan pikirannya dari rasa kehilangan yang teramat dalam dari Kyeoeun.

Dua bulan sudah dari waktu penolakkan Donghae pada Nayoung, saat itu Donghae merasa bersalah karena pasti sudah membuat hati Nayoung sakit, tapi itu keputusan yang baik untuk tidak membuat rasa sakit yang lebih karenanya. Waktu semakin menjauh dari saat-saat kebersamaan Donghae bersama dengan Kyeoeun tapi rasa cinta yang ada dihati Donghae untuk Kyeoeun masih sama.

Perjalanan Donghae pulang menuju rumah ditemani kabut tipis yang sudah mulai menyelimuti pegunungan sekitar, dengan kecepatan sedang dari mobilnya Donghae menuruni pegunungan. Matanya dimanjakan dengan hijau pepohonan yang sedikit tertutup kabut, terlihat sangat segar dimata. Perjalanannya menuruni gunung dinikmatinya dengan baik, menghibur dirinya yang selama ini dalam kesedihan.

Malam sudah menutupi Gangwon saat Donghae tiba dirumah, dia melangkahkan kakinya menuju kamar. Donghae membasu dirinya dengan air hangat untuk menghilangkan sedikit lelah dari tubuhnya namun tak lama Donghae kehilangan keseimbangannya, dia hampir saja terjatuh. Selesai mandi Donghae menghampiri meja yang ada dikamarnya, mengambil botol kecil yang ada didalam laci kecil dimeja itu. Donghae menenggak butir obat yang diambilnya dan kemudian merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, menarik nafas panjang lalu memejamkan mata.

Sehari setelah Kyeoeun meninggal Donghae mulai tak memikirkan keadaannya, dia mengabaikan kesehatannya sendiri. Obat yang diminumnya adalah untuk mengobati organ dalam tubuhnya yang sudah mulai rusak karena kebiasaannya yang menunda makan juga dengan kebiasaan-kebiasaan buruknya yang lain dan duduk diluar tengah malam juga menjadi kebiasaan buruknya.

Donghae tertidur atau mungkin hanya menutup matanya dengan masih tetap terjaga. Tak lama Donghae bangkit dari tidurnya dan mengambil Ipond, memasang earphone lalu menuju balkon kecil dikamarnya. Ia mulai memutar rekaman suara Kyeoeun, mendengar suara Kyeoeun untuk mengusir sedikit kerinduan yang sangat besar didalam hatinya sambil mengenang semua kenangan yang pernah mereka lalui bersama.

Angin malam bertiup, meyelimuti Donghae dengan seluruh kenangannya bersama Kyeoeun. Membiarkannya merasakan dinginnya angin malam. Donghae membuka matanya pelan setelah mendengar rekaman itu, berharap saat dia membuka matanya dia akan melihat Kyeoeun berdiri didepannya. Donghae tersenyum dalam tangis sedihnya, mengingat keceriaan Kyeoeun.

“ Kau adalah anugrah terindah dalam hidupku “

0_o

Hari akan terus berganti, gelap malam tak akan selamanya menguasai langit. Kehidupan harus tetap berjalan meski alasan untuk hidup bahkan sudah mati. Menjalani kehidupan hingga waktu kita habis, habis dan tak akan ada lagi cerita dari kita untuk dunia, tapi apa yang pernah ada dalam masa kehidupan kita akan selalu terkenang oleh orang-orang yang menyayangi kita.

Donghae berdiri dibalkon kecil kamarnya, memandang wajah langit sore yang akan berganti gelap. Menikmati detik-detik pergantian warna langit itu dengan membayangkan wajah Kyeoeun. Wajahnya tersapu angin, matanya terpejam sesaat untuk merasakan tiupan angin itu. Angin masih setia menemani Donghae, berhembus dengan lembut. Donghae masih menutup matanya dan sesaat kemudian menyiratkan senyum diwajahnya yang mulai terlihat tirus. “ Dongeun forever … “ Donghae berbisik.

“ Tok .. Tok .. “
Ketenangan Donghae berakhir saat pintu kamarnya diketuk seseorang, “ Donghae .. “, “ Omma, Nayoung “ Donghae melihat kearah Nayoung yang berdiri dibelakang Ibunya. “ Omma tadi bertemu dengannya disupermarket lalu mengajaknya kerumah. Ibu mau masak makan malam, kau temani dia dulu yaa “ Ibu Donghae meninggalkan Nayoung disana dan bergegas menuruni anak tangga untuk memasak.

Donghae membalikkan tubuhnya dan kembali mengamati langit yang sudah mulai gelap. Nayoung melangkah mendekati Donghae dan memberanikan diri berdiri disampingnya. “ Aku iri dengannya, sangat iri “ Nayoung memandang langit bersama Donghae. Donghae tidak mengerti maksud ucapan Nayoung barusan dengan tetap memandang langit. “ Dia bisa membuat Oppa sampai seperti ini, membuat Oppa tetap mencintainya dan hanya dia. Aku sungguh iri “ senyum Nayoung.

“ Apa yang kau suka dariku, apa yang membuatmu meyukaiku? Tidakkah kau sadar aku ini sudah mati “ Donghae tersenyum manis mengatakan hal pahit seperti itu pada Nayoung. “ Tidak lebih 5 kali kita bertemu dan kau bisa bilang menyukaiku, itu terlalu cepat “ Donghae memasang earphone ditelinganya.

Nayoung memandang Donghae sedih, ia melepas earphone yang baru saja Donghae kenakan.“ Sadarkah betapa mudahnya Oppa untuk disayangi, bagaimana orang lain tidak bisa menahan untuk tidak tertarik padamu?. Ya, mungkin aku terlalu cepat mengatakan perasaanku tapi apa bedanya sekarang atau nanti aku mengatakan, kalau aku menyukaimu “. Donghae hanya diam, ia tidak bereaksi untuk ucapan yang Nayoung katakan padanya. Ia meraih earphone yang ada ditangan Nayoung dan kembali memakainya.

0_o

Donghae mengancingkan lengan bajunya, dia sedang berada dihadapan cermin. Wajahnya benar-benar terlihat sangat tirus. Donghae menenggak obat yang ada didalam laci yang ada dimeja kecil dikamarnya sebelum berangkat kekantor pagi ini. Menuruni anak tangga dengan perlahan menuju mobilnya yang terparkir digarasi.

“ Apa kau sudah melihat pembangunan hasil desaign mu? “, “ Ya, aku sudah melihatnya satu kali dan minggu depan aku akan kembali kesana untuk melihat perkembangannya, Hyung apa kau sudah melihat …. “ Donghae membahas tentang arsitektur sebuah rumah yang dia pelajari kemarin dirumah pada Jung soo, berbagi bersama mengenai arsitektur sebuah bangunan.

“ Bagaimana kau dengan Nayoung? Aku rasa dia menyukaimu “, “ Tidak ada apa-apa “ Donghae berjalan menuju mobilnya. “ Kalau kau ada hubungan dengannya aku malah senang, sepertinya dia anak baik “ senyum Jung soo pada Donghae namun Donghae tetap konsisten dengan jalannya menghampiri mobil.

Donghae membuka kaca mobilnya, menyandarkan tangannya disana sehingga orang bisa melihatnya dari luar. Donghae melihat Nayoung diujung jalan, dia sedang berjalan kaki sendirian. Tanpa sadar Donghae memperlambat laju mobilnya dan mengamati Nayoung dari kejauhan.

“ Bruuuukkkkk …………………………………………… “

0_o

“ Cintamu adalah udara untuk kehidupanku “

Pendeteksi jantung berbunyi dengan ketukan lambat, menandakan stabilnya kondisi Nayoung saat ini. Infus sudah terpasangan dilengan kirinya yang kecil dan alat bantu pernafasan juga sudah pada posisinya. Donghae tidak menyangka akan mengalami kejadian seperti ini lagi, dia harus melihat seorang wanita yang mencintainya terbaring tak berdaya akibat tertabrak mobil, ini kedua kalianya.

Donghae hanya diam dengan segala ketakutan yang ada padanya saat ini, memori itu kembali. Ingatan saat kematian Kyeoeun terputar kembali diotaknya, sangat mengiris perih hatinya. Matanya tidak lepas dari Nayoung, tanpa berani menyentuhnya Donghae hanya bisa mengamatinya. “ Kau tidak boleh mati, tidak boleh “ ucap Donghae lirih sebelum akhirnya meninggalkan ruang rawat Nayoung.

Tetesan air mata turun tanpa komando, hanya mengalir tanpa bisa berhenti dimata yang sudah sangat lelah untuk menangis. Donghae hanya bisa membiarkan air matanya mengalir untuk kesekian kalinya, kejadian yang membuat hidupnya mati kini terulang lagi, meski bukan pada orang yang dia cintai tapi Nayoung adalah wanita yang mencintainya sama seperti Keyoeun. Entah menangis untuk Nayoung yang sekarang terbaring dirumah sakit atau masih saja karena Kyeoeun tapi yang pasti Donghae merasakan kesedihan yang dalam.

Donghae meringis dalam tangisan kesedihannya, ini karena Kyeoeun. Ya karena Kyeoeun, dia mengingat kejadian yang merenggut seseorang yang menjadi alasan untuknya hidup. Merenggut semua kebahagian yang ada untuknya. Donghae memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya disana, menyamarkan suara tangisannya agar tidak terdengar oleh ibunya.

“ Kyeo ,, eun …..”

0_o

Angin, ya angin bertiup dengan lembut mengiringi langkah lunglai lemas Donghae. Sebuket bunga mawar putih sudah digenggamnya dengan erat ditangan kanannya. Pemadangan sekitarnya sangat damai, hanya ada padang rumput luas dengan batu-batu nisan yang menancap ditanah untuk menandakan siapa yang terbaring disana sebagai tempat peristirahatan terakhir.

Shin Kyeoeun, Donghae menghentikan langkahnya dihadapan batu nisa bertuliskan nama Shin Kyeoeun. Meletakkan buket bunga mawar putih disana, memandangi nama yang tertulis dibatu nisan seperti sedang memandangi wajah dari pemilik nama tersebut, penuh dengan cinta dan rasa rindu yang amat dalam.

“ Aku akan terus mencintaimu Shin Kyeoeun dan akan menjaga setiap kenangan kita dengan baik didalam hatiku tanpa pernah melupakannya. Hanya akan ada Dongeun “ Donghae segera mengilangkan tetesan air matanya menggunakan jari-jarinya.

“ Appa … “ seoarang anak wanita mungil menghampiri Donghae, Donghae memelukknya dan membawanya kedalam dekapannya. “ Kyeoeun, mana Omma? “, “ Itu … “ Donghae memandang kearah yang ditunjukkan oleh Kyeoeun kecil yang ada didalam pelukkannya. Nayoung, Nayoung yang ditunjuk oleh jari kecil dari Kyeoeun.

Donghae mendaratkan kecupan kecil diujung dahi Nayoung saat sudah dalam jangkauan tangannya dan merangkulnya. “ Onnie, aku akan menjanganya untukmu. Baik-baiklah disana sampai Dongeun bisa kembali bertemu dan sebelum itu biarkan aku menjaganya untukmu “ Nayoung tersenyum kearah Donghae yang juga tersenyum, senyum bahagia yang sudah bisa terlihat dari seorang Lee Donghae.

Tanpa pernah terlupakan cinta yang manis itu akan selalu ada, atau mungkin setiap cerita cinta akan selalu tersimpan rapi didalam hati. Cinta yang membuat kita hidup dan mati akan selalu ada dan terjaga cerita juga kenangannya didalam hati, bukan hanya melewati sebuah cerita lalu terbuang namun menjalani cinta dan menyimpannya. Jadi pelajaran bukan untuk bahan menuju kematian 

-The END-
*Please don’t copy paste and Re-Upload this FF*

~ by Julz on April 26, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: